A Tenacious Learner

about.me/nofinurina

#AdviseForTheYoung

Saya termasuk tipe yang sebenarnya care,  tapi selalu lupa atau sulit mengekspresikan verbally kalau memang care. Even to my own siblings. I don’t know why, it’s just in my blood.  

Jika dihitung” lebih sering mereka yang menelepon saya duluan ketimbang saya, what an irony since I am the eldest one! *dilempar bantal* *terjun ke laut*

Well, tapi giliran kami sudah berbicara dan berdiskusi banyak hal, we were so into it. Sejam cuap-cuap kali ada, ya. I mostly will tell many stuff about life since I had been in their places. 

The things I tell them including:

1. Dare to be Different

Ini buat saya basic rule untuk hidup. Bagaimanapun kita punya prinsip, dan selama prinsip itu diyakini berlandaskan hal yang benar, keep holding on. Meskipun berbeda dengan yang lainnya. Yeah, people might be saying lots of stuff, but who cares? Kalau kamu memilih untuk selalu sama dan mengikuti arus, apa beda kamu dengan dead fish who always go with the flow? Ouch, sarcasm much? Yap. Saya sejatinya ga segan bicara blak-blakan, nevermind to sugarcoat it ;)

2. Be active, keep being involved in many great activities

Saya ga perlu sulit” untuk meyakinkan hal yang satu ini pada kedua adik, since yang satu sangat hobi organisasi sementara satunya lagi sangat hobi ikut lomba. Oh well. Beda banget sama saya yang hobinya tidur sulit terdefinisikan, ahaha. Kali ini, saya perlu kekeuh mengingatkan kepada mereka kalau akademik tetep jadi prioritas utama, harus belajar manajemen waktu secara bijak. Meskipun sejujurnya, aktif di berbagai kegiatan kampus dan organisasi itu seru! *baru sadar*

***

Anyway, mungkin dua poin di atas jadi penekanan penting hampir di setiap percakapan kami. Dan sekarang, si bungsu sedang risau mencari penjurusan kuliah yang cocok untuknya. Otomatis, saya jadi ikutan mikir dan mencari bahan untuk brainstroming dia mencari jati dirinya.

I won’t dictate his life because he will be the one whom responsible for it. 

His dream is simple, yet complicated. 

"Aku pingin jadi ilmuwan yang hapal Al Quran. Pokoknya ilmuwan. Nggak tahu sih, ilmuwan apa.."

and I went into speechless mode.

Confused, yet intrigued.

Workspace, 9.54pm.

Jaga psikiatri 5/5 usai sudah. 
Alhamdulillah doa kami terkabuul! Ditutup dengan jaga ding-ding dua hari berturut” tanpa konsulan maupun pasien baru, dirayakan dengan syukuran sushi takeaway :9

Jaga psikiatri 5/5 usai sudah.
Alhamdulillah doa kami terkabuul! Ditutup dengan jaga ding-ding dua hari berturut” tanpa konsulan maupun pasien baru, dirayakan dengan syukuran sushi takeaway :9

Psychiatry dept on the go : lets check these kids up, shall we?

#medicine #psychiatry #children #healthexamination  #school

Psychiatry dept on the go : lets check these kids up, shall we?

#medicine #psychiatry #children #healthexamination #school

Doa

Udah beberapa hari ini ketemu teman-teman lama. Seneng banget. Dan somehow, selalu disadarkan kalau ada target yang sampai sekarang belum kunjung kelar jua: thesis!

Dan gilirannya saya ngasih excuse (yeah I know, this is some kind of my self defense mechanism, lol) kalau saya orangnya suka fokus dan susah multitasking, giliran dia bilang kalau saya perempuan, and later, will be a mom. Should have been more capable of doing more tasks and being multitasking. Such a punch in my gut *ouch* haha.

Ya semoga jadi doa yang baik buat saya ya. Jujur kepikiran memang, tapi sulit buat saya multitasking antara mikir pasien sama riset dalam waktu yang bersamaan. Apalagi kalau sudah urusan riset, pasti perlu ngampus dan nongkrong di lab kampus. Yang pada kenyataannya ga mungkin dibarengin sama jaga shift di Rumah Sakit.

Yeah. I wish I were amoeba, bisa membelah diri gitu haha.
Thanks for the reminder fellas! InsyaAllah segera digarap usai sekolah profesi ini *ikat kepala* Aamin

Trust your daughters, they are faithful. Honor your daughters, they are honorable. Educate your daughters, they are amazing.

—Ziauddin Yousafzai, father of Malala Yousafzai, on his advice to parents (via larmoyante)

ariniayulestari:

jalansaja:

kotak-nasi:

academicus:

Selama sepuluh tahun, beliau telah banyak mengubah Indonesia.
Menyimak Pidato Kenegaraannya di DPR yang terakhir seperti melihatnya melambaikan tangan, mengucapkan salam perpisahan. Mengingatkan tentang perjalanan panjang bangsa kita. Bahwa kita sebagai bangsa telah jauh berjalan bersama, bergandengan tangan, berjuang menjadi bangsa yang lebih sejahtera.

"Dari bangsa yang sewaktu merdeka sebagian besar penduduknya buta huruf, rakyat Indonesia kini mempunyai sistem pendidikan yang kuat dan luas, yang mencakup lebih dari 200 ribu sekolah, 3 juta guru, dan 50 juta siswa.
Dari bangsa yang tadinya terbelakang di Asia, Indonesia telah naik menjadi middle-income country, menempati posisi ekonomi ke-16 terbesar di dunia, dan bahkan menurut Bank Dunia telah masuk dalam 10 besar ekonomi dunia jika dihitung dari Purchasing Power Parity.
Dari bangsa yang seluruh penduduknya miskin di tahun 1945, Indonesia di abad ke-21 mempunyai kelas menengah terbesar di Asia Tenggara, dan salah satu negara dengan pertumbuhan kelas menengah tercepat di Asia
Dari bangsa yang jatuh bangun diterpa badai politik dan ekonomi, kita telah berhasil mengonsolidasikan diri menjadi demokrasi ke-3 terbesar di dunia”

Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa semua stabilitas dan perkembangan ekonomi negara kita adalah “kejadian alami”, yang terjadi karena hasil jerih payah rakyat sendiri.
“Ya itu kan memang karena Indonesia lagi punya bonus demografi”
“Ini memang karena kelas ekonomi menengah kita sedang kuat”
“Ini karena rakyat memperjuangkan perubahannya sendiri, bukan karena pemerintahan SBY”
Buat saya, pendapat seperti ini adalah pendapat pecundang. Mereka terlalu sombong untuk membuka mata dan menerima fakta, bahwa kita bisa mendapatkan semuanya karena kita berjalan bersama, dan kita berjalan di bawah pemerintahan SBY.
Tidak adil jika kita menyalahkan SBY atas semua kegagalan pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu, tetapi tidak memberikan apresiasi sama sekali ketika di bawah kabinet yang sama, terdapat begitu banyak prestasi.
Dan sungguh tidak adil jika kita membandingkan Indonesia dengan Amerika, Eropa, Korea, atau negara lainnya. Indonesia terlalu luas, terlalu besar, dan terlalu beragam untuk disamakan dengan negara manapun di dunia. Menjadi pemimpin sebuah negara dengan ribuan pulau, ribuan suku, ribuan bahasa, dan milyaran pemikiran yang tersebar dalam jutaan kepala adalah sebuah beban yang teramat besar, terlalu besar.

"Menjadi Presiden dalam lanskap politik dimana semua pemimpin mempunyai mandat sendiri, dalam demokrasi 240 juta, adalah suatu proses belajar yang tidak akan pernah ada habisnya"

Dan dia tetap memilih berani berdiri di sana, atas memimpin kita bertumbuh bersama.

"Setelah hampir 7 dekade merdeka, Indonesia di abad ke-21 terus tumbuh menjadi bangsa yang semakin bersatu, semakin damai, semakin makmur, dan semakin demokratis"

Saya mungkin bukan ahli politik, saya bisa jadi tidak mengerti sosial-ekonomi, dan saya barangkali tidak tahu banyak soal tata negara.
Tapi saya tahu pasti menjadi presiden bukanlah perkara mudah.
Saya sadar betul memimpin Indonesia bukan pekerjaan sederhana.
Saya semakin memahami bahwa presiden tak sepantasnya dengan mudah dicaci-maki, dibilang lamban, dicap tolol, diteriaki boneka asing, dan dijadikan lelucon.
Jika memang ia mengkhianati kita sebagai bangsa, saya tidak pasti tahu akan hal itu, sebagaimana Anda pun demikian. Jika memang SBY menjual negara kepada asing atas niatan berkhianat, saya pun tidak melihat dengan mata kepala saya sendiri akan hal itu, sebagaimana Anda pun demikian. Yang tahu pasti akan semua pengkhianatan itu, hanya dia dan Tuhan.
Tapi saya tahu pasti Pak SBY kurang tidur karena memikirkan Indonesia. Terlihat jelas lelah dan semua beban itu di kantung matanya.
Saya percaya Pak SBY mengusahakan perdamaian di negeri ini dengan seksama, agar bangsa kita yang begitu beragam agamanya, begitu berwarna keyakinannya, tidak saling mengadu dan tetap bisa bersatu.

"Dalam sepuluh tahun terakhir, saya telah mencoba mendedikasikan seluruh jiwa dan raga untuk Indonesia. Terlepas dari berbagai cobaan, krisis dan tantangan yang saya alami, tidak pernah ada satu menit pun saya merasa pesimis terhadap masa depan Indonesia. Dan tidak pernah satu menit pun saya merasa tergoda untuk melanggar sumpah jabatan dan amanah rakyat saya sebagai Presiden"

Dan dengan semua perjalanan panjang itu, Pak SBY dengan rendah hati meminta maaf secara terbuka.

"Merupakan kehormatan besar bagi saya menjadi Presiden Republik Indonesia. Saya adalah anak orang biasa, dan anak biasa dari Pacitan, yang kemudian menjadi tentara, menteri, dan kemudian dipilih sejarah untuk memimpin bangsa Indonesia. 
Tentunya dalam sepuluh tahun, saya banyak membuat kesalahan dan kekhilafan dalam melaksanakan tugas. Dari lubuk hati yang terdalam, saya meminta maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan. Meskipun saya ingin selalu berbuat yang terbaik, tetaplah saya manusia biasa”

Memikirkan ini semua, saya jadi membayangkan suatu saat nanti ketika saya punya kesempatan bertemu dengan beliau, apa yang akan saya katakan.
Saya teringat berapa banyak saya ikut mencaci beliau dan menjadikannya bahan lelucon, dan betapa sedikitnya saya mengapresiasi dan berusaha benar-benar memahami beban beratnya sebagai pemimpin bangsa Indonesia.
 
Saya mungkin tidak akan berbicara banyak.
Saya akan menjabat tangannya erat, menatap matanya lekat, dan memeluknya dengan hangat.
Saya hanya ingin meminta maaf dan berterima kasih.

Bapak, suwun. Terima kasih banyak. :”)

:)

:’)

ariniayulestari:

jalansaja:

kotak-nasi:

academicus:

Selama sepuluh tahun, beliau telah banyak mengubah Indonesia.

Menyimak Pidato Kenegaraannya di DPR yang terakhir seperti melihatnya melambaikan tangan, mengucapkan salam perpisahan. Mengingatkan tentang perjalanan panjang bangsa kita. Bahwa kita sebagai bangsa telah jauh berjalan bersama, bergandengan tangan, berjuang menjadi bangsa yang lebih sejahtera.

"Dari bangsa yang sewaktu merdeka sebagian besar penduduknya buta huruf, rakyat Indonesia kini mempunyai sistem pendidikan yang kuat dan luas, yang mencakup lebih dari 200 ribu sekolah, 3 juta guru, dan 50 juta siswa.

Dari bangsa yang tadinya terbelakang di Asia, Indonesia telah naik menjadi middle-income country, menempati posisi ekonomi ke-16 terbesar di dunia, dan bahkan menurut Bank Dunia telah masuk dalam 10 besar ekonomi dunia jika dihitung dari Purchasing Power Parity.

Dari bangsa yang seluruh penduduknya miskin di tahun 1945, Indonesia di abad ke-21 mempunyai kelas menengah terbesar di Asia Tenggara, dan salah satu negara dengan pertumbuhan kelas menengah tercepat di Asia

Dari bangsa yang jatuh bangun diterpa badai politik dan ekonomi, kita telah berhasil mengonsolidasikan diri menjadi demokrasi ke-3 terbesar di dunia”

Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa semua stabilitas dan perkembangan ekonomi negara kita adalah “kejadian alami”, yang terjadi karena hasil jerih payah rakyat sendiri.

“Ya itu kan memang karena Indonesia lagi punya bonus demografi

“Ini memang karena kelas ekonomi menengah kita sedang kuat”

“Ini karena rakyat memperjuangkan perubahannya sendiri, bukan karena pemerintahan SBY”

Buat saya, pendapat seperti ini adalah pendapat pecundang. Mereka terlalu sombong untuk membuka mata dan menerima fakta, bahwa kita bisa mendapatkan semuanya karena kita berjalan bersama, dan kita berjalan di bawah pemerintahan SBY.

Tidak adil jika kita menyalahkan SBY atas semua kegagalan pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu, tetapi tidak memberikan apresiasi sama sekali ketika di bawah kabinet yang sama, terdapat begitu banyak prestasi.

Dan sungguh tidak adil jika kita membandingkan Indonesia dengan Amerika, Eropa, Korea, atau negara lainnya. Indonesia terlalu luas, terlalu besar, dan terlalu beragam untuk disamakan dengan negara manapun di dunia. Menjadi pemimpin sebuah negara dengan ribuan pulau, ribuan suku, ribuan bahasa, dan milyaran pemikiran yang tersebar dalam jutaan kepala adalah sebuah beban yang teramat besar, terlalu besar.

"Menjadi Presiden dalam lanskap politik dimana semua pemimpin mempunyai mandat sendiri, dalam demokrasi 240 juta, adalah suatu proses belajar yang tidak akan pernah ada habisnya"

Dan dia tetap memilih berani berdiri di sana, atas memimpin kita bertumbuh bersama.

"Setelah hampir 7 dekade merdeka, Indonesia di abad ke-21 terus tumbuh menjadi bangsa yang semakin bersatu, semakin damai, semakin makmur, dan semakin demokratis"

Saya mungkin bukan ahli politik, saya bisa jadi tidak mengerti sosial-ekonomi, dan saya barangkali tidak tahu banyak soal tata negara.

Tapi saya tahu pasti menjadi presiden bukanlah perkara mudah.

Saya sadar betul memimpin Indonesia bukan pekerjaan sederhana.

Saya semakin memahami bahwa presiden tak sepantasnya dengan mudah dicaci-maki, dibilang lamban, dicap tolol, diteriaki boneka asing, dan dijadikan lelucon.

Jika memang ia mengkhianati kita sebagai bangsa, saya tidak pasti tahu akan hal itu, sebagaimana Anda pun demikian. Jika memang SBY menjual negara kepada asing atas niatan berkhianat, saya pun tidak melihat dengan mata kepala saya sendiri akan hal itu, sebagaimana Anda pun demikian. Yang tahu pasti akan semua pengkhianatan itu, hanya dia dan Tuhan.

Tapi saya tahu pasti Pak SBY kurang tidur karena memikirkan Indonesia. Terlihat jelas lelah dan semua beban itu di kantung matanya.

Saya percaya Pak SBY mengusahakan perdamaian di negeri ini dengan seksama, agar bangsa kita yang begitu beragam agamanya, begitu berwarna keyakinannya, tidak saling mengadu dan tetap bisa bersatu.

"Dalam sepuluh tahun terakhir, saya telah mencoba mendedikasikan seluruh jiwa dan raga untuk Indonesia. Terlepas dari berbagai cobaan, krisis dan tantangan yang saya alami, tidak pernah ada satu menit pun saya merasa pesimis terhadap masa depan Indonesia. Dan tidak pernah satu menit pun saya merasa tergoda untuk melanggar sumpah jabatan dan amanah rakyat saya sebagai Presiden"

Dan dengan semua perjalanan panjang itu, Pak SBY dengan rendah hati meminta maaf secara terbuka.

"Merupakan kehormatan besar bagi saya menjadi Presiden Republik Indonesia. Saya adalah anak orang biasa, dan anak biasa dari Pacitan, yang kemudian menjadi tentara, menteri, dan kemudian dipilih sejarah untuk memimpin bangsa Indonesia.

Tentunya dalam sepuluh tahun, saya banyak membuat kesalahan dan kekhilafan dalam melaksanakan tugas. Dari lubuk hati yang terdalam, saya meminta maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan. Meskipun saya ingin selalu berbuat yang terbaik, tetaplah saya manusia biasa”

Memikirkan ini semua, saya jadi membayangkan suatu saat nanti ketika saya punya kesempatan bertemu dengan beliau, apa yang akan saya katakan.

Saya teringat berapa banyak saya ikut mencaci beliau dan menjadikannya bahan lelucon, dan betapa sedikitnya saya mengapresiasi dan berusaha benar-benar memahami beban beratnya sebagai pemimpin bangsa Indonesia.

 

Saya mungkin tidak akan berbicara banyak.

Saya akan menjabat tangannya erat, menatap matanya lekat, dan memeluknya dengan hangat.

Saya hanya ingin meminta maaf dan berterima kasih.

Bapak, suwun. Terima kasih banyak. :”)

:)

:’)

(via wordsdust)